Oleh: irfanto | 15 Februari 2009

BIOTEKNOLOGI TUMBUHAN

BIOTEKNOLOGI TUMBUHAN

Oleh:irfanto

ABSTRAK

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai beberapa aturan dalam penerapan bioteknologi dalam industri dan pertanian. Dengan melakukan survey terhadap industri pertanian, kita akan mengetahui pentingnya penerapan bioteknologi dan penelitian dalam bidang pertanian. Penerapan di bidang pertanian ini teruatama dengan metode pertukaran gen pada tanaman yang menghasilkan produk alternatif pangan sebagai solusi meningkatnya kebutuhan pangan dunia yang semakin meningkat, kemudian kita akan melihat lebih dekat mengenai metode pertukaran gen pada tanaman, misalnya dengan pemilihan proses pembiakan dan hibridisasi secara konvensional, kloning; menumbuhkan tanaman dari sel tunggal, peleburan protoplas, teknik fragmentasi daun, pistol gen, teknik kloroplas, dan teknologi antisense. Selain itu, ita juga akan belajar tentang rekayasa genetika yang dapat menghasilkan vaksin pelindung tanaman dari berbagai penyakit, seperti penyisipan gen virus TMV pada tanaman tembakau, kemudian dengan memanfaatkan gen racun Bacillus thuringiensis (Bt) pada tanaman, sehingga membantu mengurangi penggunaan pestisida dan juga dapat meningkatkan kandungan gizi pada makanan seperti halnya pengembangan Golden Rice yang banyak mengandung vitamin A. kemudian pada kehidupan yang akan datang, bioteknologi diharapkan dapat meningkatkan manfaat dari tumbuhan sebagai penghasil obat menjadi tanaman penghasil bahan bakar alternatif. Dan yang terakhir adalah kita dapat mewujudkan kesehatan lingkungan dengan bioteknologi.

Bioteknologi ini menimbulkan keresahan pada masyarakat. Sejak ditemukannya tanaman transgenik, masyarakat mulai khawatir akan akibat yang sangat berpotensi untuk membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan serta melanggar aturan-aturan. Tanaman transgenik yang merupakan hasil pengembangan bioteknologi ini diharapkan sebagai tanaman yang tidak alami dan pasti akan menimbulkan bahaya. Namun kekhawatiran tersebut tidak terbukti karena pada kenyataannya tanaman hasil budidaya transgenik sangat aman dikonsumsi oleh masyarakat. Hal ini telah diuji dan diteliti oleh para ilmuwan. Jadi pengembangan tanaman bioteknologi sangat banyak memberikan manfaat bagi perkembangan zaman.

Tomat yang dijual digrosir pada kenyataanya merupakan tanaman yang memerlukan rekayasa. Tanpa perhitungan generasi untuk memilih dengan mentransfer pembibitan yang lemah, Berry asam menjadi buah yang lezat yang kita kenal saat ini. Pada dekade terakhir konvensional hibridisasi (dengan persilangan polinasi) telah memproduksi tomat yang mudah untuk tumbuh, cepat matang dan resisten terhadap penyakit. Tambahan usaha pioner atau perintis di bioteknologi penelitian menciptakan tomat yang dijual di took-toko tersusun berderet tanpa kehilangan rasa. Lebih lanjut dapat dimungkinkan bahkan transformasi yang mengagumkan untuk tomat ini adalah bahwa suatu hari dapat memberi masukan atau mengganti suntikan sebagai vaksin untuk menyembuhkan penyakit manusia.

Pada bab ini kita akan sadar peranan dari bioteknologi di bidang industri pertanian. Kita akan meneliti industri pertanian untuk lebih mengenal sehingga mendorong pengembangan dan penelitian di biadang bioteknologi. Kemudian kita akn lebih spesifik untuk mengganti gen pada tanaman dan juga belajar begaimana keahlian rekayasa biologi dapat melindungi hasil pertanian dari hama penyakit dan mengurangi ketergantungan terhadap pestisida serta meningkatkan kandungan nutrisi dan makanan. Untuk lebih lanjutnya, kita akan melihat suatu masa depan tanaman yang berbasis pada produk bioteknologi. Dari farmasi hingga alternatif minyak tanah dan akhirnya kita sadar terhadap lingkungan dan kekhawatiran mengenai kesehatan di sekeliling tanaman bioteknologi.

A. Agrikultur : revolusi berikutnya

Lebih dari 40 tahun ini jumlah penduduk telah berlipat ganda, sementara jumlah tanah/lahan yang tersedia hanya bertambah sekitar 10 %. Kenyataannya kebutuhan pangan dunia yang dibutuhkan setiap orang meningkat 25% selama 40 tahun belakangan ini. Bagaimana hal ini memungkinkan untuk memberi makan begitu banyak manusia dengan hanya sebuah pertambahan kecil di lahan tersedia?. Kebanyakan dari produktifitas yang meningkat tergantung pada metode perkawinan/peternakan silang yang dikembangkan ratusan tahun yang lalu untuk menghasilkan hewan dan tumbuhan dengan ciri-ciri yang spesifik. Baru-baru ini bagaimanapun juga, perkembangan hasil pangan yang baru dan lebih produktif telah dipercepat oleh transfer gen secara langsung.

Transgen (pemindahan gen) tanaman adalah(pemindahan gen ke tanaman secara langsung) memungkinkan inovasi yang sangat tidak mungkin dicapai dengan metode hibridasi konvensional. Beberapa perkembangan yang memiliki potensi komersil yang signifikan, adalah tanaman yang memproduksi/memiliki pestisida sendiri, tanaman yang memilki kemampuan melawan benda beracun (anti racun) dan bahkan bio-produk seperti vaksin tumbuhan. Karena memproduksi protein transgenic relatif mudah dan hasil atau mutu proteinnya bagus, penelitian dan perkembangan yang akan datang di area ini sangatlah cerah/menjanjikan. Contohnya, melalui perkembangbiakan classical, kekuatan rata-rata serat kapas naik sekitar 1,5 pertahun. Bagaimana juga bioteknologi telah mempercepat langkah ini secara dramatis. Dengan menyisipkan satu gen, kekuatan dari satu varietas kapas bertambah sekitar 60%.

Bioteknologi selama 19 tahun telah mentransformasi industri pertanian. Menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat pada 2002, para petani Amerika menanam hampir 80 miliyar (acres), jagung dan kedelai yang diubah secara genetik, 13% pertambahan dari tahun sebelumnya. Dari semua itu, 74% dari hasil panen kedelai dan 32% dari jagung dilakukan secara genetik untuk melawan hama dan herbisida. Jagung dan kedelai merupakan awal dari revolusi bioteknologi, akan tetapi banyak tanaman lain yang juga berperan. Para peneliti telah memproduksi lebih dari 40 jenis tanaman transgenic, termasuk tomat, tembakau, padi, ketan, kacang-kacangan, asam, pepaya, dan lain-lain.

Walaupun tanaman pangan hanya salah satu aspek dari efek bioteknologi, mereka juga menjadi fokus kontroversi di dunia luas. Kelaparan berlanjut ke bencana, dan kenyataan ini adalah argumen yang sangat menarik untuk perkembangan cepat dari hasil tanaman yang lebih produktif dan bernutrisi. Bagaimanapun juga, beberapa sektor dikhususkan bahwasanya penelitian bisa jadi merugikan bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

Perdebatan masih jauh dari kata-kata “usai”. Untuk mengembangkan opini, pembuat keputusan ini mengerti ilmu yang ada di balik produk baru ini, menganalisis produk itu sendiri, dan mengetahui peraturan yang ada untuk memonitor penelitian bioteknologi. Dalam masalah tertentu, sangatlah tidak mungkin jika revolusi di bioteknologi pertanian akan berhenti. Protes atau tidak, hasil tanaman bioteknologi akan memiliki peran kunci dalam masyarakat kita.

B. Metode yang Digunakan dalam Transgenesis Tanaman

  • Pemilihan Proses Pembiakan dan Hibridisasi secara Konvensional

Rekayasa genetika untuk tanaman bukanlah hal baru,. Sejak lahirnya bidang pertanian, petani memilih tanaman dengan ciri-ciri yang diinginkan. Meskipun demikian persilangan secara hati-hati terus dilanjutkan untuk mengembangkan tanaman seiring perkembangan jaman, menghasilkan tongkol jagung yang besar, apelyang banyak airnya, dan banyak lagi hasil panen modern yang lainnya, cara pembiakan tanaman yang lama, sangat lambat dan tidak tentu. Membuat tanaman dengan sifat yang diinginkan membutuhkan persilangan seksual antara dua macam tanaman dan diulangi dengan persilangan balik antara keturunan hasil persilangan dengan salah satu induk. Mengisolasi sebuah ciri yang dinginkan pada metode ini memerlukan waktu yang lama. Sebagai contoh, percobaan Luther Burbank terhadap blackberry putih memakan 65.000 persilangan yang tidak sukses. Faktanya, tanaman dari jenis yang berbeda-beda pada umumnya tidak akan berkembang biak, akibatnya ciri genetik tidak akan bisa diisolasi kecuali ciri tersebut tetap bisa bertahan pada keturunan tumbuhan yang selanjutnya.

Bioteknologi berjanji untuk mengatasi keterbatasan ini. Ilmuwan saat ini bisa mentransfer gen spesifik untuk ciri yang diinginkan ke dalam tanaman, prosesnya cepat dan pasti karena tanaman memberikan beberapa keuntungan untuk rekayasa genetika:

1. Sejarah persilangan tanaman memberikam ciri genetik tanaman dengan banyak keturunan yang bisa diamati pada tingkat molekular.

2. Tanaman menghasilkan banyak keturunan, jadi mutasi dan rekombinasi gen dapat ditemukan dengan mudah.

3. Tanaman mempunyai kemampuan regenerasi yang lebih baik dibanding dengan hewan.

4. Tidak ada batasan jenis dan kecocokan seksual pada tumbuhan

· Kloning: Menumbuhkan Tanaman dari Sel Tunggal

Sel tumbuhan berbeda dengan sel hewan dalam banyak hal, tetapi satu karakteristik sel tumbuhan yang penting dalam bidang bioteknologi yaitu bisa beregenerasi dari sel tunggal. Hasil tanamannya yaitu replikan genetika atau cloning dari sel induk (hewan juga bisa dikloning hanya saja prosesnya lebih kompleks). Kemampuan sel tumbuhan ini membuat mereka cocok untuk penelitian genetika. Setelah materi genetik yang baru dikenalkan kepada suatu sel tumbuhan, sel tersebut dengan cepat menghasilkan tanaman dewasa, dan peneliti dapat melihat hasil modifikasi genetik dalam waktu yang relatif pendek. Selanjutnya kita akan mengingat beberapa metode yang digunakan untuk menyisipkan informasi genetik ke dalam sel tumbuhan.

  • Peleburan Protoplas

Saat tanaman diinjeksi, isi sel yang disebut “callus” mungkin tumbuh melebihi ukuran lukanya. Callus memiliki kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi tunas dan akar, bahkan mungkin bunganya dapat dihasilkan dari bagian yang terluka. Kita mungkin dapat mengambil keuntungan dari kemampuan ini, ika kita pernah mengkloning tanaman hias favorit dengan memotong akarnya.

Potensi alami sel tumbuha tersebut membuat mereka menjadi kandidat ideal untuk manipulasi genetika. Seperti semua sel tumbuhan, bagaimanapun sel kalus dikelilingi dinding tipis yang tersusun atas selulosa, selulosa ini menjadi penghalang dalam proses pengambilan DNA. Untungnya dinding sel tersebut dapat dilarutkan dengan enzim selulase, sehingga meninggalkan sel yang sudah gundul yang disebut protoplas. Protoplas suatu tanaman bisa melebur dengan protoplas tanaman dari jenis yang berbeda, membentuk sel yang bisa tumbuh menjadi tanaman bastar. Metode ini disebut peleburan protoplas dan ditunjukkan pada gambar 6.2, yang telah digunakanuntuk membuat “Broccoflower”, yaitu peleburan brokoli dan kembang kol.

  • Teknik Fragmentasi Daun

Pada tumbuhan transfer genetik terjadi secara alami saat merespon organisme-organisme yang bersifat patogen. Sebagai contoh , “wound” bisa terinfeksi oleh bakteri tanah yang disebut Agrobacterium tumefaciens (Agrobacter), bakteri ini mengandung banyak plasmid yang bertindak mengatur pertumbuhan sel di dalam tumbuhan. Untuk alasan ini, plasmid tersebut terkenal dengan nama plasmid “Tumor-Inducing (Ti)”. Penyakit yang disebabkannya disebut “crown gall”. Jika anda pernah melihat bengkak pada pohon atau semak-semak mawar maka itulah akibat dari agrobacter (ditunjukkan dalam gambar 6.3).

Plasmid bakteri memberi bioteknologi sarana yang ideal untuk memindahkan DNA. Agar sarana tersebut bisa dipakai, peneliti berusaha mengembangkan teknik fragmentasi daun. Pada metode ini diambil potongan kecil daun, ketika fragmen mulai beregenerasi, mereka tumbuh dengan cepat pada medium yang mengandung modifikasi genetika Agrobacter, seperti yang ditunjukka pada gambar 6.4. Selama penelitian ini, DNA dari plasmid Ti bergabung dengan DNA sel inang dan materi genetik bisa terkirim . Potongan daun kemudaian mendapat pengaruh hormon tumbuhan untuk mulai membentuk tunas dan akar sebelum tumbuhan baru ditanam di tanah.

Kelemahan utama dalam proses ini adalah bahwa Agrobacter tida bisa menginfeksi tumbuhan monokotil (tumbuhan yang tumbuh dari kotiledon tunggal, seperti jagung dan gandum). Tumbuhan dikotil (tumbuhan yang tumbuh dari dua kotiledon), seperti tomat, kentang, apel, dan kacang-kacangan semuanya adalah kandidat yang baik untuk proses ini

  • Pistol Gen

Ada pilihan lain untuk menyisipkan gen ke tanaman yang tahan terhadap Agrobacter. Selain mengandalkan sarana mikroba, peneliti juga bisa menggunakan “pistol gen” untuk menembakkan logam kecil yang diselubungi DNA ke embrio sel tumbuhan. Prosesnya agak keras tetapi terbukti beberapa tumbuhan bisa menerima DNA baru.

Pistol gen khusus digunakan untuk menembakkan DNA ke dalam inti sel tumbuhan, tetapi mereka juga bisa membidik kloroplas, yaitu bagian sel yang mengandung klorofil. Tumbuhan memiliki 10-100 kloroplas pada tiap selnya dan setiap kloroplas masing-masing mempunyai ikatan DNA. Apakah target mereka inti sel ataukah kloroplas, peneliti harus mengidentifikasi sel yang dimasuki DNA baru terlebih dahulu. Pada salah satu pendekatan yang umum mereka menggabungkan gen yang diinginkan dengan sel yang mengandung antibiotik tertentu. Gen ini disebut “marker” atau gen pelapor. Setelah menggunakan pistol gen, peneliti mengumpulkan sel dan mecoba menumbuhkan meraka di dalam medium yang mengandung antiobiotik. Hanya sel yang mengalami transformasi saja yang akan bertahan. Gen yang kebal terhadap antibiotik akan berpindah sebelum sel menjadi tumbuhan dewasa, jika peneliti menginginkan.

  • Teknik Kloroplas

Sepeti yang telah dibahas pada bagian pistol gen, kloroplas dapat menjadi target rekayasa genetika. Tidak seperti DNA pada inti sel, DNA pada kloroplas dapat menerima beberapa gen baru dalam satu waktu. Selain itu, kemungkinan besar gen yang menyisip ke dalam kloroplas akan tetap aktif saat tumbuhan menjadi dewasa. Keuntungan lainnya adalah bahwa DNA dalam kloroplas terpisah dari DNA bebas pada serbuk sari tumbuhan. Ketika kloroplas mengalami modifikasi gen, gen tersebut tidak mengalami transformasi yang tidak berbeda jauh dari hasil yang diperoleh. Proses ini ditunjukkan dalam gambar 6.6

  • Teknologi Antisense

Banyangkan Tomat, warnanya merah dan berair serta enak…dan sangat lunak. Saat sudah matang, tomat akan membusuk dalam beberapa hari. Tetapi rasa tomatnya, diperkenalkan pada tahun 1994 setelah diteliti bertahun-tahun, dapat bertahan selama berminggu-minggu. Teknik genetika mengembangkan beberapa hal yang menguntungkan.

Tomat yang sudah matang akan menghasilkan enzim Poluglacturanase (PG), subtansi kimia yang mencerna pektin pada dinding sel tumbuhan, pencernaan ini menyebabkan kerusakan yang merupakan bagian dari siklus alami tumbuhan. Peneliti dari Calgene (sekarang daerah bagian Monsanto) mengidentifikasi gen yang mengikat PG, memindah gen dari sel tumbuhan. Dan menghasilkan salinan gen yang kompleks. Dengan menggunakan Agrobacter sebagai organisme vektor, mereka memindahkan gen baru ke dalam sel tomat. Di dalam sel, gen mengkode molekul RNAm (molekul antisense) yang bersatu dan menonaktifkan molekul RNAm normal sehingga tidak ada PG yang dihasilkan, tidak ada pektin yang dicerna, dan pembusukan alami akan melambat. Proses ini ditunjukkan dalam gambar 6.7. Meskipun contoh yang pertama ini tidak sesukses yang diharapkan, ini bisa digunakan untuk menemukan varietas lain dipasaran saat ini.

Kita dapat mengharapkan untuk dapat menemukan lebih banyak perkembangan antisense dimasa yang akan datang. Contohnya, teknologi DNA bekerja pada kentang untuk mencegah kerusakan. Mereka memindah gen yang responsible untuk menghasilkan enzim yang menaikkan perubahan warna pada kulit kentang. Mungkin ini terdengar seperti hanya sedikit perbaikan, akan tetapi analisis pasar menunjukkan bahwa konsumen memilih untuk membeli kentang yang tidak mudah rusak. Secara sederhana ini menjadi perubahan kecil yang membawa dampak keuntungan yang besar bagi petani kentang (dan khususnya pengkonsumsi kentang). Pada penelitian lain, gen dari ayam disambungkan ke dalam kentang untuk meningkatkan kandungan protein.

Perkembangan nilai nutrisi pada makanan pokok bisa membantu banyak orang diseluruh dunia untuk mendapatkan protein yang mereka butuhkan pada pola makan mereka. Penjelasan bagaiman inovasi tersebut dilakukan dapat anda temukan pada bagian berikutnya.

C. Aplikasi bioteknologi pada tanaman lahan pertanian dan perkebunan.

  • Vaksin untuk tanaman.

Hasil panen lahan pertanian bisaanya sangat rentan terserang penyakit, terutama penyakit yang disebabkan oleh virus. Dengan adanya infeksi oleh berbagai macam virus, suatu tanaman akan terganggu pertumbuhannya, kualitasnya menurun, dan secara otomatis pasti akan menurunkan penghasilan para petani.Namun, sekarang para petani telah berhasil membuat alternatif dengan membuat pemberantas virus alami. Salah satu cara yang diterapkan yaitu dengan menyuntikan semacam vaksin ke dalam tubuh tanaman. Seperti halnya vaksin folio, vaksin ini mengandung strain virus yang telah dilemahkan. Vaksin ini kemudian membuat suatu tanaman kebal terhadap virus tertentu.

Namun, selain menggunakan metode suntikan, sekarang telah ditemukan cara untuk menghasilkan kekebalan dalam tubuh tanaman, yaitu dengan cara menyisipkan sebuah gen dari virus TMV (Tobacco Mosaik Virus) ke dalam tubuh tanaman tembakau. Kemudian gen ini menghasilkan protein seperti yang di temukan di permukaan tubuh virus TMV, dan kemudian dia bekerja sebagai imun TMV dalam tubuh tanaman tersebut. Proses ini ditunjukkan dalam gambar 6.8. pada proses yang tercantum dalam gambar 6.8 dapat dijelaskan sebagai berikut: TMV mempunyai susunan tubuh yang terdiri atas protein sub unit sebagai mantel, dan untaian molekul RNA. Langkah pertama untuk melakukan proses penyisipan gen yaitu dengan cara mengkonversikan RNA dari mantel virus ke dalam cDNA sebuah bakteri yang bisa disisipi. Kemudian gen dari bakteri tersebut ditransfer ke agrobakter yang bertindak sebagai vector. Agrobakter mampu disisipi DNA tersebut karena dia mempunyai plasmid TI. Kemudian DNA agrobakter tersebut disisipkan ke dalam satu sel tanaman, dan sel tanaman tersebut ditumbuhkan dalam kultur yang sesuai. Setelah tumbuh besar tanaman tersebut diuji coba dengan virus (TMV) setelah melakukan percobaan tersebut ternyata tanaman yang telah disisipi gen agrobakter yang mengandung DNA virus akan kebal terhadap serangan TMV. Jadi tidak hanya bagian tubuh tertentu dari tanaman yang kebal terhadap virus, namun juga keseluruhan tubuh tanaman.

  • Pestisida secara genetika apakah aman dipakai ?

Selama 35 tahun, beberapa petani telah menggunakan suatu bakteri sebagai pestisida, bakteri tersebut adalah Bacillus thruringiensis (Bt), yang telah diresmikan menjadi pestisida tanaman. Bakteri tersebut menghasilakn sebuah kristal protein yang membunuh serangga dan larvanya yang membahayakan tanaman. Cara yang dilakukan untuk menyebarkan bakteri tersebut pada lahan pertanian adalah dengan menyebarkan spora bakteri pada lahan pertanian, dengan demikian petani akan dapat menjaga tanamannya walaupun tidak menggunakan bahan-bahan kimia pembunuh serangga..

Dengan adanya bioteknologi, petani tidak hanya dapat menyebarkan bakteri pada lahan pertanian mereka, namun mereka juga dapat menyebarkan gen Bt ke lahan mereka. Tanaman yang mengandung gen racun Bt dapat membantu membunuh serangga . Dengan adanya bioteknologi tanaman, telah banyak tanaman yang mempunyai insektisida dari gen, seperti tanaman tomat, tembakau, jagung, dan kapas. Kenyataannya, sebagian besar biji kapas yang diproduksi sekarang mengandung gen racun Bt, yang sangat efektif melindungi tanaman kapas dari serangan serangga. Cara kerja dari gen racun tersebut adalah ketika serangga memakan daun kapas, dimana ketika mereka memakan daun kapas tersebut mereka akan mati terbunuh. Gambar bakteri Bt ditunjukkan dalam gambar 6.9.

  • Penyimpanan yang aman

Ladang tidak hanya sebagai tempat yang peka terhadap serangan serangga. Di Amerika beberapa hasil juga sangat rentan terhadap serangan serangga selama penyimpanan. Sehingga di beberapa negara dapat mengalami kekurangan makanan.

Namun sekali lagi, dengan adanya bioteknologi masalah tersebut dapat diatasi. Misalnya tentang penelitian terhadap jagung. Di mana jagung dapat menghasilkan avidin. Avidin tersebut merupakan sebuah protein yang ditemukan di dalam putih telur yang sangat rentan terhadap hama selama masa penyimpanan. Protein tersebut menghalangi keberadaan biotin, vitamin yang dibutuhkan serangga untuk hidup. Pemakaian teknologi ini dalam skala besar bisa menyelamatkan banyak kehidupan di negara berkembang.

  • Kerentanan Herbisida

Pemberantasan hama secara tradisional mempunyai beberapa kekurangan, diantaranya adalah pemberantasan tersebut akan memberantas tanaman yang terinfeksi sampai ke rumput-rumput liar yang ada di sekitarnya. Namun dengan adanya bioteknologi, saat ini para petani dapat menggunakan herbisida dengan mudah tanpa mengkhawatirkan dampak negatifnya terhadap lingkungan. Hasil panen dapat menjadi rentan terhadap herbisida tertentu, sebagai contoh yaitu glyphosate. Herbisida ini menghalangi enzim yang dibutuhkan untuk fotosintesis. Melalui rekayasa biologi ilmuwan mampu membuat hasil panen transgenik yang menghasilkan enzim alternatif yang tidak terpengaruh glyphosate. Pendekatan ini berhasil pada kacang-kacangan. Saat ini kebanyakan kacang-kacangan yang dibudidayakan untuk digunakan sebagai makanan hewan, mengandung gen yang kebal terhadap herbisida. Prosesnya ditunjukkan dalam gambar 6.10

Petani yang menanam hasil panen yang kebal terhadap herbisida, bisaanya selalu mengontrol rumput-rumput liar dengan bahan kimia yang lebih aman terhadap lingkungan dibanding herbisida. Perkembangan ini sangat penting karena sebelum adanya hasil panen yang rentan, petani kapas Amerika Serikat menghabiskan 300 juta dolar tiap tahun untuk memperoleh bahan-bahan kimia yang akan disemprotkan ke lahan mereka.

  • Serat yang kuat.

Seperti yang disebutkan di awal, cara lama untuk menghasilkan serat hanya dapat meningkatkan rata-rata kekuatan serat kapas sampai 1,5% per tahun. Namun, setelah adanya bioteknologi melalui penyisipan gen, kekuatan serat mengalami peningkatan samapai 60%. Serat yang dihasilkan menjadi lebih halus, menjadi lebih nyaman dipakai saat dijadikan bahan bju dan yang pasti menambah penghasilan petani.

Semua keuntungan dalam bidang bioteknologi sangat berguna untuk semua umat manusia. Keuntungan yang sangat lebih berarti adalah mampu menyelamatkan manusia dari kelaparan. Salah satu alternatif yang dihasilkan dari bioteknologi adalah dengan Golden Rice, yang secara genetik dapat menghasilkan beta karoten, sebuah provitamin yang dapat memenuhi kebutuhan vitamin A dalam tubuh. Hal tersebut akan sangant lebih efisien, karena menurut pengalaman dengan adanya kebutaan terhadap anak-anak maka petugas kesehatan sangant sibuk dan kesulitan untuk menyampaikan obat-obatan kepada mereka. Dan sekarang adenga adanya vitamin yang terkandung dalam bahan makanan maka akan sangat membantu mengatasi hal-hal tersebut. Namun, setiap kelebihan akan suatu penemuan pasti ada kekurangan yang mengukuti. Demikan pula dengan adanya Golden Rice ini, untuk anak-anak yang kekurangan lemak dalam tubuhnya, maka mereka tidak dapat mengkonsumsi beras ini dengan baik, karena sebelum dapat dikonsumsi dengan baik oleh tubuh, maka harus diuraikan terlebih dahulu oleh lemak. Maka dari itu penemuan tidak hanya sampai disana saja, para ilmuan mencari alternatif lain yang lebih mudah, dan efisien, sebagai contoh mereka mulai mengambangkan beras kaya dengan zat besi dan protein.

  • Masa depan: Dari obat-obatan beralih ke bahan bakar.

Dalam waktu yang tidak lama lagi para petani akan dapat menumbuhkan obat-obatan di sepanjang tanaman panenan mereka. Hal ini sangat memungkinkan manusia untuk menumbuhkan hormon dari hasil transgenik tanaman tembakau. Dengan demikian tanaman dapat dijadikan sebagai vaksin. Akhir-akhir ini hasil penelitian dari Universitas Cornell mendapatkan tomat dan pisang yang memproduksi vaksin untuk melawan penyakit hepatitis B. para peneliti juga sedang menemukan manfaat lain dari tomat sebagai bahan obat-obatan, diantaranya dari klorofil yang terkandung di daunnya, mereka berharap dapat menemukan semacam vaksin atau antibody dari kandungan klorofil tersebut. Selain itu, sekarang mjuga mulai dikembangkan bahan bakar kendaraan bermotor, kopi bebas kafein, tembakau bebas nikotin, plastic yang diolah untuk menyuburkan tanaman, dan perusahaan serat.

Bioteknologi juga menemukan cara memproduksi tanaman nonprotein atau mengubah suatu sel. Contohnya adalah quinine, lemak seperti asam lemak untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah, politerpens merupakan jenis karet yang baru, S-linalool sebagai penambah aroma, adanya warna biru delfinin dari bunga, kemudian adanya pereduksian plastik untuk menyuburkan tanaman.

D. Kekhawatiran Terhadap Kesehatan dan Lingkungan

Sejak ditemukannya tanaman transgenik, masyarakat mulai khawatir akan akibat yang sangat berpotensi membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan. Pada era ini dimana banyak orang menganggap sesuatu yang “alami” hampir sama dengan keaamanan, anggapan tersebut menyebabkan tanaman transgenik tersebut dianggap sebagai tanaman yang tidak alami dan pasti akan menimbulkan bahaya. Para aktifis lingkungan gencar memprotes perusahaan-perusahaan yang memproduksi tanaman yang dimodifikasi secara genetik.

Beberapa kekawatiran tersebut telah mengguncang dunia industri tanaman. Pada tahun 2002, para petani yang memprotes tanaman kentang di barat daya telah menghentikan pembelian tanaman kentang yang dimodifikasi secara genetik. Selama ini tidak pernah terlihat tanda-tanda bahwa kentang-kentang yang dibuat atau diolah agar tahan terhadap hama tersebut menjadi berkualitas lebih rendah atau berbahaya. Bentuk dan rasa kentang-kentang transgenik ini sama seperti kentang-kentang biasa. Bahkan untuk mengembangkan kentang transgenik ini para petani kentang tidak memerlukan bahan kimia dalam menumbuhkannya. Kentang-kentang tersebut mampu bertahan hidup melawan serangga-serangga kecil dan hama kentang namun hal ini bukanlah opini yang hangat dibicarakan di masyarakat.

  • Kekhawatiran Terhadap Kesehatan Manuisia.

Semua jenis tanaman terdiri dari DNA. Ketika anda mengunyah wortel atau menggigitnya menjadi bagian-bagian kecil, pada dasarnya anda tidak menyadari bahwa anda sedang memakan beberapa gen. Para penentang rekayasa sebenarnya tidak memiliki alasan yang kuat untuk menentang atau melawan teknologi tersebut. Hanya saja mereka khawatir dan takut terhadap efek samping dari gen asing yang membentuk potongan-potongan DNA yang tidak lazim (alami) ditemukan disuatu tanaman. Sebuah jurnal penelitian yang dimuat di salah satu jurnal obat-obatan inggris pada tahun 1996 telah menginformasikan paling tidak beberapa kekhawatiran atau ketakutan tersebut. Di dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa kacang kedelai yang mengandung gen kacang brazil dapat memicu alergi pada para konsumen kedelai yang sensitif pada kacang brazil. Karena penemuan itulah jenis kacang transgenik tidak pernah dipasarkan.

Kita bisa melihat peristiwa ini dari dua sudut pandang yang berbeda. Para penentang menyatakan bahwa kasus kacang kedelai ini telah menunjukkan kegagalan bioteknologi. Mereka memprediksi bahwa banyak hal yang akan terjadi jika protein asing akan memicu reaksi yang berbahaya pada konsumen yang tidak diduga sebelumnya. Sedangkan para pendukung bioteknologi menganggap ini adalah sebuah sejarah kesuksesan karena sistem yang mereka ciptakan telah berhasil mendeteksi bahaya yang dapat ditimbulkan sebelum produk tersebut dapat dipasarkan kepada masyarakat

Pada saat ini banyak ahli menyetujui bahwa produk makanan yang dimodifikasi secara genetik tidak menyebakan menyebarnya reaksi alergi pada tubuh. Menurut laporan terkini dari Asosiasi Medis Amerika, hanya sedikit protein yang dapat memicu munculnya reaksi alergi. Para ilmuwan pun sudah mengenali protein-protein tersebut. Keanehan dari penyebab alergi yang tidak dikenali itu dimana menelusup pada makanan yang telah dimodifikasi secara genetik sangatlah jarang terjadi apalagi di tempat grosir. Pada kenyataannya, suatu saat nanti bioteknologi pasti akan mampu mencegah alergi yang dapat menyebabkan kematian. Para peneliti sekarang sedang bekerja keras untuk menghasilkan kacang dengan sedikit kandungan protein yang dapat mengacaukan atau memberantas reaksi alergi

Dalam hal ini, alergi bukanlah satu-satunya yang diperbincangkan. Beberapa ilmuwan telah berspekulasi bahwa gen resisten anti biotik yang digunakan sebagai tanda pada beberapa tanaman transgenik dapat menyebar melalui penyakit yang disebabkan bakteri oleh bakteri pada manusia. Secara teori bakteri tersebut akan semakin kuat dan sulit diatasi. Untungnya bakteri-bakteri tersebut tidak menyerang gen makanan kita secara reguler dan terus-menerus. Menurut sebuah laporan penelitian pada jurnal sains terkini, hanya ada sedikit kesempatan bagi gen resisten antibiotik untuk berpindah dari tanaman ke bakteri. Bahkan sudah banyak bakteri yang sudah berkembang menjadi gen resisten antibiotik.

Jika anda perhatikan mengenai literatur anti bioteknologi, anda akan banyak mendapat kecaman-kecaman. Berita utama seperti “Makanan Hantu Bisa Menyebabkan Kanker” muncul dimana-mana. Namun sampai saat ini protes-protes tersebut tidak didukung oleh sains. Akademi sains akhir-akhir ini melaporkan bahwa hasil panen bahan pangan transgenik pada pasar sangatlah aman untuk dikonsumsi manusia.

  • Kekhawatiran terhadap lingkungan

Seperti yang telah dibahas pada bagian pestisida genetik, telah disebutkan bahwa penelitian akhir-akhir ini telah menyerah atas kekhawatiran tersebut. Hal ini dikarenakan oleh sebuah peristiwa bahwa jagung dari hasil rekayasa bioteknologi telah membunuh sejumlah kupu-kupu monarch. Bagaimanapun juga kekawatiran terhadap lingkungan itu tidak bisa hilang. Salah satu hal yang pasti bahwa perkembangan genetika pada hasil panen terbukti dapat mengembangbiakan bibit super. Seperti gen antibiotik resisten , secara teori dapat menyebar dari tanaman ke bakteri, gen untuk pestisida dan herbisida resisten juga berpotensi menyebar ke bibit. Beberapa hasil panen seperti squash, canola, dan bunga matahari adalah benih-benih yang berhubungan dekat dan perkawinan silang pun sering terjadi sehingga gen dari suatu tanaman bercampur dengan gen tanaman lainnya. Bagaimanapun juga saat ini beberapa ahli memprediksikan jenis eksplosi genetik apapun untuk mengembangkan benih. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengukur kemungkinan bahaya yang timbul dan menemukan cara meminimalkan resikonya.

Potensi kerusakan ekologi yang disebabkan oleh perkembangan bioteknologi hasil panen harus dipertimbangkan secara hati-hati atas untung ruginya. Pertama dan yang paling penting adalah bioteknologi harus mampu mengurangi bahan kimia dalam pestisida. Menurut Pusat Kebijakan Makanan dan Agrikultur nasional petani yang menanam benih kapas bioteknologi pada sekitar tahun 1998 diberi ganti rugi atas pestisida yang mereka gunakan senilai lebih dari satu juta pounds.

Secara keseluruhan bioteknologi tidak membawa kita kedalam bencana ekologi. Bahkan Akademi Sains Nasional akhir-akhir ini telah melaporkan bahwa perkembangan hasil panen produk bioteknologi mempunyai lebih sedikit gangguan pada lingkungan dibandingkan dengan hasil panen tradisional.

  • Regulasi

Bioteknologi bukanlah pioneer yang tidak memiliki kekuatan hukum seperti yang telah kita ketahui. Beberapa agensi yang berbeda telah meregulasi produksi dan pemasaran produk makanan transgenik (makanan yang telah dimodifikasi secara genetik). FDA (Badan Administrasi Makanan dan Obat-obatan) telah meregulasi makanan di pasaran, Departemen Pertanian Amerika mengawasi praktek pertumbuhannya dan agen perlindungan lingkungan mengontrol penggunaan protein B+ dan pestisida lainnya. Pendekatan agensi-agensi ini telah berubah selama bertahun-tahun. Khususnya agensi FDA namun mereka selalu aktif dalam aktifitas panenan.

Pada tahun 1992 yang merupakan awal revolusi bioteknologi, FDA mengumumkan bahwa secara genetik pilihan produk pangan akan diregulasikan menggunakan standar yang sama dengan produk pangan lainnya, tidak lebih dan tidak kurang. Meskipun produk-produk tersebut tidak terlihat oleh hukum, perusahaan produk pangan secara sukarela telah mengkonsultasikan produk yang akan dipasarkan kepada FDA sebelum memasarkan produk-produknya. Pada tahun 2001 agensi mengusulkan pendekatan yang lebih disiplin dan formal. Dengan rancangan aturan bahwa perusahaan akan memberitahukan kepada FDA minimal 120 hari sebelum produk tersebut dipasarkan. Para penyuplai juga harus menyertai bukti bahwa produk baru tersebut tidak lebih berbahaya dari produk lama yang digantikannya.

Di indonesia, telah ada badan hukum POM yaitu Badan Pengawas Obat dan Makanan, badan inilah yang mengawasi kelayakan keamanan dari produk-produk makanan yang beredar di pasaran. Badan ini berfungsi selain sebagai kontrol juga sebagai filter terhadap produk-produk baru, sehingga produk yang beredar di pasaran benar-benar memang produk yang aman untuk dikonsumsi.

Selain dengan adanya badan POM, semua produk pangan yang akan dipasarkan harus memiliki izin dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Di Depkes Ri ini juga akan dilihat bagaimana kelayakan produk tersebut.

Artikel Tentang Peranan Bioteknologi

Seberapa Aman Produk Bioteknologi?

ProdiGene Inc. of College Station, Texas, menjadi perusahaan pertama yang berhasil memodifikasi tanaman untuk menghasilkan protein tertentu yang berfungsi sebagai obat. Produknya adalah trypsin, insulin, dan obat penting lainnya yang akan dimasukkan ke dalam jagung oleh ProdiGene. Jagung ini hanya sebuah permulaan dari banyak cara untuk mengobati penyakit.

Para peneliti sedang mengujinya pada kentang, tomat, dan wortel untuk menghasilkan vaksin hepatitis B. Para peneliti tersebut memodifikasi tomat, bayam, dan melon untuk menghasilkan vaksin rabies. Tomat yang diuji tersebut telah melewati tahap awal pengujian sebagai vaksin untuk virus syncytal pernapasan yang mengakibatkan penyakit pada bayi dan orang dewasa.

Kedelai biotek muncul menjadi obat untuk penyakit herpes, sementara sawi sedang diuji untuk perawatan hepatitis B dan C. Ada juga rumor yang berkembang yang mengatakan bahwa sedang dikembangkan vaksin AIDS di dalam tanaman jagung. Semua vaksin dan perawatan potensial ini berbasis pada protein bukan bahan kimia. Protein ini dihasilkan oleh gen makhluk hidup. Tanaman dapat menghasilkan jumlah protein yang besar yang tidak dapat kita proses dalam tubuh kita (seperti insulin dalam kasus diabetes) atau tubuh kita menghasilkannya dalam jumlah yang terlalu sedikit untuk melawan penyakit.

· Tomat pengobat kanker

Sebuah tim ilmuwan dari Purdue University dan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) telah mengembangkan tomat yang tiga setengah kali lebih banyak mengandung lycopene dan antioxidant untuk melawan kanker dibandingkan varietas-varietas tomat yang ada sekarang ini. Saat mengembangkan tomat untuk makanan yang memiliki kualitas lebih tinggi dan kematangan yang dapat ditunda, tim ini juga menemukan bahwa tomat tersebut memiliki lebih banyak antioxidant dibandingkan varietas-varietas tomat yang ada sekarang. Avtar Handa, seorang Profesor hortikultura di Purdue University mengatakan bahwa ini adalah salah satu contoh pertama peningkatan nilai gizi makanan melalui bioteknologi. “Sebenarnya ini contoh pertama penggunaan bioteknologi untuk meningkatkan nilai gizi pada buah-buahan,” ungkapnya. Penelitian ini diumumkan pada edisi Juni 2002 di Nature Biotechnology. Pengajuan untuk hak paten telah diisi atas nama pemilikan bersama USDA dan Yayasan Penelitian Purdue University. Prof. Handa mengatakan teknik yang digunakan dalam penelitian juga digunakan untuk meningkatkan antioxidant pada makanan lainnya. “Kami sangat gembira dengan hal ini, bukan saja karena hasilnya meningkatkan lycopene pada tomat, tapi kami pikir hal ini dapat juga digunakan untuk meningkatkan kandungan phytonutrient buah dan sayuran lainnya,” demikian ungkapnya. Sementara itu, Lutz Nover dan timnya dari Biologi Molekuler Departemen di Johann Wolgang Goethe-Universitat Frankfurt telah berhasil mengidentifikasi protein yang disebut HsfA1 sebagai regulator respons tomat terhadap suhu. HsfA1 mengaktifkan ekspresi gen yang menyandikan protein ketahanan terhadap panas.”HsfA1 memiliki fungsi tersendiri sebagai regulator yang dapat memberikan thermotolerance,” ungkap Nover. Pemahaman yang lebih jauh tentang respon tomat terhadap panas akan sangat berharga bagi para ilmuwan bioteknologi pertanian untuk mencari cara modifikasi gen pertumbuhan dan pematangan.

· Vaksin dalam Kentang

DNA Inc., sebuah perusahaan bioteknologi mengumumkan akan segera memasarkan vaksin transgenik untuk melindungi hewan ternak dari penyakit yang mematikan. “Vaksin ini masih dalam tahap pengujian terakhir dan hasilnya akan segera dimumkan dalam beberapa bulan mendatang,” ungkap Dominic Lam, pemegang saham mayoritas di perusahaan tersebut. Vaksin transgenik ini berbentuk pakan yang dihasilkan dari tanaman transgenik juga. “Akhir tahun 80-an saya berpikir tentang vaksin yang tidak mahal dan mudah penggunaannya,” ungkap Lam, yang merupakan salah satu direktur pendiri Hong Kong Institute of Biotechnology antara 1988 dan 1992. Kemudian Lam bersama Charles Arntzen membentuk sebuah tim di AS pada tahun 1995 untuk mengembangkan teknologi mentransplantasi protein vaksin kedalam tanaman yang dapat dijadikan pakan seperti tomat dan kentang. Teknologi transplantasi ini disebut teknologi deoxyribonucleic acid (DNA), yaitu memindahkan gen dari satu spesies ke spesies yang lain. Namun untuk vaksin manusia memerlukan waktu yang lama mendapatkan persetujuan dari Food and Drug Administration (FDA), Lam memutuskan untuk memanfaatkan teknologi tersebut ke hewan ternak. “Saat saya di Hong Kong tahun 1988 melihat Cina memiliki banyak penyakit hewan yang sangat merugikan dan mereka tidak memiliki vaksin yang ampuh,” imbuh Lam. Ia membentuk tim bersama Fred Leung, dekan di Universitas Hong Kong untuk mencobakan teknologi DNA ini kedalam pakan ternak. Ia kemudian mendirikan DNA Inc. untuk lebih memfokuskan diri pada pengembangan beberapa vaksin transgenik, dengan mananamkannya di dalam pakan tersebut. “Pengujian vaksin hewan ini sedang dilakukan pada babi,” kata Lam. “Kita akan mengetahui hasilnya dalam beberapa bulan mendatang.” Lam mengatakan bahwa transplantasi vaksin ke dalam pakan ternak dapat menggantikan penyuntikan vaksin yang sangat umum digunakan. “Jika Anda menguji suatu vaksin, itu hanya akan membutuhkan waktu sekitar dua atau tiga bulan,” ungkapnya. Karena vaksin tersebut berdasarkan DNA dan protein, mereka tidak memiliki efek samping.”

· Amankah?

Berbagai kekhwatiran yang muncul terhadap produk transgenik merupakan hal yang wajar. Akan tetapi, pada kenyataannya terdapat sejumlah pernyataan aman dari lembaga resmi internasional. Seperti WHO (World Health Organization) dan FAO (Food and Agriculture Organization). Masyarakat Amerika Serikat sejak tahun 1996 telah mengonsumsi kedelai transgenik dan hingga kini tidak ada laporan dampak negatif yang timbul akibat mengonsumsinya.

Masyarakat Eropa yang pada awalnya menentang produk transgenik kini sudah mulai menerima ditandai dengan adanya pernyataan dari Komisi Pusat Masyarakat Eropa di Brussel pada bulan Oktober 2001. Berdasar hasil dari 18 proyek penelitian selama 15 tahun, terbukti tidak ada risiko bagi kesehatan manusia dan lingkungan yang ditimbulkan dari tanaman hasil modifikasi genetika.

Sementara itu, Dr. Bruce Chassy dari University of Illinois menyatakan bahwa tanaman yang dihasilkan melalui bioteknologi telah terbukti aman sebagaimana halnya dengan tanaman yang dihasilkan dari pemuliaan konvensional. Lebih jauh ia mengupas bahwa tanaman ini bahkan dapat lebih aman, penggunaan kapas Bt contohnya. Kapas ini lebih sedikit menggunakan pestisida jadi lebih sedikit paparan pestisidanya terhadap petani, lingkungan sekitar dan organisme nontarget. Artikel Chassy yang berjudul “Evaluasi Keamanan Pangan Hasil Bioteknologi” telah diterbitkan dalam jurnal American College of Nutrition, vol. 21, nomor 3 (2002). Ia menggambarkan proses evaluasi makanan bioteknologi sebelum tanaman itu disetujui untuk komersialisasi. Ia memberikan analogi tentang pendekatan wait and see terhadap teknologi ini. Ia mengatakan bahwa Amerika pernah menunggu untuk mengumpulkan bukti bahwa mereka tidak akan memanfaatkan kereta api karena perjalanannya yang pertama tidak aman dan bahkan mematikan. Ia juga mengatakan bahwa kita juga pernah mengabaikan listrik karena banyaknya kebakaran, luka dan korban jiwa saat pertama kali digunakan. “Kebalikannya, tanaman bioteknologi telah dicoba selama lima tahun dan tidak ada satu laporanpun yang menyakinkan seorang ilmuwan untuk mempertanyakan keamanan tanaman transgenik ini,” ujar Chassy. Pelajaran yang dapat dipetik adalah kita harus menganalisis dan mengambil keputusan tentang keamanan suatu produk dari pemanfaatannya ketimbang teknologi itu sendiri.

· Negara pengembang

Bukan hanya negara-negara di Amerika dan Eropa, negara-negara di Asia pun kini mulai bersaing dalam industri bioteknologi. Menteri Ilmu Penggetahuan dan Teknologi Republik Korea, Seo Jung-Uck, telah mengumumkan rencana untuk meningkatkan peringkat negara tersebut dalam hal bioteknologi dari peringkat 14 menjadi ke-7 pada tahun 2010. Ia juga mencanangkan tahun ini sebagai “Tahun Bioteknologi” yang akan membantu para pengusaha, ilmuwan, dan teknisi untuk merampungkan 600 usaha patungan bioteknologi sampai akhir tahun ini. Dalam rapat kebijakan tahunan, Menteri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Seo Jung-Uck melaporkan rencana pengembangan industri bioteknologi ini kepada Presiden Kim Dae Jung. Menteri ini mengalokasikan dana sebesar 323,8 milyar won (259 juta dolar AS) untuk penelitian dn pengembangan bioteknologi DNA, protein, dan bioinformasi. Menteri juga mengumumkan rencana untuk mendirikan Pusat Penelitian Genetik Nasional dan membuat aturan mengenai etika ilmiah dalam rangka memberikan dasar bagi penelitian genom. Sementara itu, Science Magazine edisi Januari 2002 mengungkapkan saat ini Cina sedang mengembangkan secara besar-besaran produk bioteknologi, tidak ada satu pun negara di luar Amerika Utara yang bisa menandinginya, termasuk di dalamnya pengembangan tanaman pangan GM seperti padi, gandum, kacang tanah, dan kentang. Dengan jumlah staf peneliti mendekati 2.000 orang dan anggaran untuk tahun 1999 sebesar 112 juta dolar AS, Cina sedang mengerjakan program pengembangan tanaman bioteknologi terbesar di dunia. Suatu survei yang diselenggarakan oleh suatu tim dari University of California menunjukkan bahwa peneliti Cina mempunyai 141 tanaman GM untuk dikembangkan, menurut laporan Jurnal Science. Dari 141 tanaman, 65 di antaranya telah disetujui untuk di lepas ke lingkungan. Bagaimanapun, survei terbaru ini menunjukkan bahwa China’s Institutes sedang memusatkan pengembangan pada tanaman pangan yang dapat ditanam oleh petani kecil dan miskin, yakni tanaman pangan tersebut tidak dikembangkan oleh negara-negara maju. Tekanan terhadap anggaran pemerintah dan dominansi swasta terhadap riset untuk menghasilkan tanaman pangan GM akan meningkatkan hasil panen. Sementara itu, di Inggris, Tony Blair memimpin tiga kampanye terpisah untuk mendapatkan opini publik tentang gagasan membudidayakan tanaman biotek secara komersil di Inggris. Kampanye tersebut akan dilaksanakan secara pararel dengan serangkaian uji coba tanaman biotek selama tiga tahun terakhir. Ada 18 tempat uji coba yang diumumkan. Pengujiannya secara resmi melalui debat publik. Namun seorang menteri mengatakan: “Jangan ragu, keputusannya telah diambil.” Hasil dari uji coba tanaman hasil modifikasi genetika (GM) tersebut akan dipublikasikan musim panas yang akan datang. Namun para menteri mengkhawatirkan opini publik yang tidak menyukai tanaman biotek untuk ditanam secara komersial akan memicu kekisruhan politik. Departemen Lingkungan, Makanan dan Pedesaan sedang merencanakan apa yang disebut oleh menteri sebagai three-pronged PR offensive” untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap keuntungan dari makanan GM. Kampanye tersebut meliputi media tv, radio, poster, selebaran, dan pertemuan publik. Penelitian yang didukung oleh para penasehat pemerintah akan menekankan bahwa tanaman GM membutuhkan lebih sedikit bahan kimia untuk tumbuh, dan uji coba yang dilaksanakan tidak memiliki dampak buruk terhadap lingkungan dan tidak ada resiko yang telah diketahui terhadap manusia.

Akankah perdebatan ini terus berlangsung di saat pusat penelitian bioteknologi dan industri bioteknologi di negara berkembang berhasil membuat vaksin, obat, sayuran, dan buah-buahan transgenik yang hasilnya diekspor ke negara kita? Kita tunggu saja waktunya. (http://www.beritabumi.or.id/berita3.php?idberita=148, diakses 16 Februari 2007)

Kelapa Kopyor Dikembangkan Secara “Estate”

Dari Sub-Balai Penelitian Pakuwon Sukabumi Jabar, diperoleh keterangan bahwa kelapa kopyor adalah varietas kelapa tersendiri atau khusus akibat keabnormalan pertumbuhan. Daging kelapa kopyor akan tetap lunak kendati kelapa itu sudah tua. Sebagian di antara dagingnya ada yang melekat pada tempurung, sebagian lagi menggumpal di tengah.

Meskipun memiliki embrio atau lembaga, kelapa kopyor tidak dapat dijadikan bibit. Soalnya, daging kelapanya akan cepat membusuk. Lain halnya dengan kelapa biasa yang daging buahnya merupakan cadangan makanan dari si embrio. Sifat abnormal dari buah kelapa ini (kopyor) sebenarnya hanya bisa diturunkan bukan dibuat.

Seperti halnya para petani kita di pedesaan, mereka percaya dalam keadaan alam tidak normal, gempa atau ada gerhana, mereka beramai-ramai memukul-mukul pohon kelapa aga bisa menjadi kopyor. Namun, dengan kemajuan teknologi kultur embrio, membuat kekopyoran kelapa itu jadi mudah dikerjakan khususnya di laboratorium.

Dengan teknik kultur embrio, di laboratorium para pakar kultur jaringan dapat membuat bibit kelapa dengan jaminan 100% menghasilkan kelapa kopyor. Menurut pakar kelapa kopyor, Unit Penelitian Bioteknologi Perkebunan Bogor, yaitu J.S. Tahardi, Warga Dalem, dan Wargadipura bahwa kelapa kopyor adalah komoditas yang bernilai ekonomi tinggi. Namun, sampai sejauh ini belum ada para petani yang mengkhususkan komoditas ini sebagai komoditas andalannya secara luas.

Dicirikan dengan daging buah yang bertekstur gembur serta rasa yang gurih, jadilah buah kopyor ini menjadi sebuah komoditas yang banyak dicari konsumen. Rasanya yang khas, akan mampu bersaing dengan komoditas buah-buahan lainnya di pasaran. Sementara fisiknya yang berbalut sabut tebal dan berkulit batok keras, akan memungkinkan jadi komoditas ekspor yang bisa diandalkan.

Diungkapkan bahwa pengecambahan biji kelapa tidak mungkin dilakukan karena cadangan makanannya tidak mendukung pertumbuhan embrio. Hanya dengan teknik kultur embriolah kelapa kopyor memungkinkan dijadikan bibit dalam kuiltur in vitro yang kemudian dilepas ke lapangan. Lewat teknik perakitan genetika ini, bibit kelapa kopyor dapat dikembangkan secra komersial. Hasil ciptaan ini, Lembaga Bioteknologi diberikan hak paten oleh Dirjen Hak Cipta pada tahun 1997.

Dengan adanya bibit kelapa kopyor yang dikuatkan oleh Lembaga Hak Paten, makin terbuka pengembangan kopyor secara komersial. Buah kelapa ini yang merupakan komoditas andalan yang belum dikembangkan dalam skala perkebunan, dapat segera dirintis untuk mengisi peluang pasar yang masih terbuka luas. Dapat pula dijadikan komoditas ekspor dalam melengkapi kebutuhnan kopyor di pasar AFTA-2003, bersaiang dengan Vietnam dan Thailand serta Malaysia.

Kelapa kopyor hasil rekayasa genetika ini akan menghasilkan kopyor antara 90% s.d. 100% asal ditanam pada lahan yang terisolasi pada radius 600 m dari lahan penanaman kelapa dalam (biasa). Dalam keadaan normal, tanaman itu pada usia 5 tahun dengan ketinggian 200 m dpl (di atas permukaan laut) sudah bisa dipanen. Produksi buahnya rata-rata 72 butir/pohon/tahun.

Lebih jauh diungkapkan, untuk investasi kopyor estate ini tidak membutuhkan lahan yang terlalu luas. Cukup dengan lahan 1 s.d. 10 ha, sudah memiliki nilai tambah yang mempercepat kembali modal. Karena kopyor termasuk kelompok tanaman yang sifatnya quick yielding (cepat menghasilkan buah).

Untuk pertama kali di Indonesia, Lembaga Bioteknologi Perkebunan Bogor mengadakan perjanjian kerja sama dengan PTPN VIII Jabar untuk mengembangkan perkebunan kelapa kopyor. Lokasinya mengambil tempat di Perkebunan Cikumpay Kecamatan Campaka Purwakarta. Saat ini umur tanaman sudah lebih 2 tahun dan ditanam pada lahan seluas 4 ha.

Menurut Lembaga Biotek Perkebunan, perkebunan kelapa kopyor yang dikembangkan secara estate , secara luas merupakan yang pertama di Indonesia. Dalam hubungan ini, PTPN VIII Jabar menyediakan seluruh fasilitas sejak penyediakan lahan jadi untuk estate yang terisolasi dari tanaman kelapa dalam. Terkecuali tenaga ahli yang sepenuhnya dibantu oleh Bioteknologi Perkebunan Bogor, pembelian bibit, pupuk, dan obat-obatan dipasok dari perusahaan. Secara teoretis, Perkebunan Cikumpay tahun 2004/2005 dihrapkan bisa mengeluarkan 800 x 72 butir kelapa kopyor= 57.600 butir. Dengan harga per butir Rp 12.500,00, diperhitungkan pada tahun pertama panen (panen perdana) 3 tahun yanga akan datang, sebesar Rp 720.000.000,00. Diharapkan, dengan Demfarm dari Perkebunan Cikumpay ini, para investor akan lebih tertarik menginvestasikan modalnya di sektor perkebunan kelapa kopyor. Sebab, dibandingkan perkebunan kelapa dalam, jelas keuntungannya jauh lebih besar. Satu butir kelapa dalam (muda), saat ini hanya laku dijual Rp 1.000,00 per butir (http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1002/11/0802.htm, diakses 16 Februari 2007)

PEMETAAN GENETIKA FINGER MILLET
CropBiotech Update (29/01/2007, 13:48:55)

Empat jenis penanda molekuler digunakan untuk memperoleh peta genetika dari tanamn finger millet poliploid (Eleusine coracana subsp. Coracana), suatu tanaman sereal penting di Afrika Timur dan India Selatan. Finger millet utamanya ditanam oleh petani subsisten dan merupakan tanaman aman pangan dikarenakan nilai nutrisi dan kualitas penyimpanannya yang baik. Sampai saat ini kebanyakan jenis finger millet merupakan hasil seleksi plasma nutfah karena terdapat sedikit sekali aktivitas pemuliaan pada tanaman ini. Hibridisasi antar jenis budidaya atau antara jenis liar dan budidaya dapat berpeluang memperbaiki tanaman ini.

Konstruksi peta genetika oleh sebuah kelompok peneliti internasional memberikan langkah awal terhadap pemetaan sifat-sifat agronomis. Mathews Dida beserta rekannya menggunakan beberapa jenis penanda molekuler untuk menghasilkan peta genetika dari tanaman yang diturunkan melalui persilangan progenitor liar finger millet dan kultivar elit. Para peneliti percaya bahwa peta tersebut pada akhirnya akan membantu dalam mentransfer sifat-sifat yang berguna seperti resistensi terhadap penyakit blast, resistensi penyimpanan, toleran kekeringan dan nilai nutrisi dalam program pemuliaan finger millet.

(F:\B-tech\++ IndoBic – Indonesia Biotechnology Information Centre ++.htm) diakses 24 Februari 2007

Daftar Pustaka

Anonim, 2007. Pemetaan Genetika Finger Millet, (online) (F:\B-tech\++ IndoBic – Indonesia Biotechnology Information Centre ++.htm) diakses 24 Februari 2007

Gusyana, Dadang.. 2002. Seberapa Aman Produk Bioteknologi? , (online),

(http://www.beritabumi.or.id/berita3.php?idberita=148, diakses 16 Februari 2007)

Riskomar, Dedi. 2002. Kelapa Kopyor Dikembangkan Secara “Estate”, (online), (http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1002/11/0802.htm, diakses 16 Februari 2007)

Palladino, Michael. A. & Thieman William. J. 2004. Introduction to Biotechnology. San Francisco: Pearson Education, Inc.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: