Oleh: irfanto | 14 Februari 2009

PENGENDALIAN HAMA GASTROPODA DENGAN BEBEK (Anas superciliosa)

PENGENDALIAN HAMA GASTROPODA DENGAN  BEBEK (Anas superciliosa)

oleh:irfanto

Ikan Nila (Oreocromis niloticus) bukan ikan asli perairan indonesia tetapi jenis ikan pendatang yang diintroduksi ke Indonesia dalam beberapa tahap. Ikan Nila (Oreocromis niloticus) merupakan ikan yang memiliki daya tumbuh yang lebih cepat dan dibandingkan dengan ikan mujair yang juga sudah berkembang di Indonesia (Amri dan Khairuman, 2003 ).

Dewasa ini, Ikan Nila (Oreocromis niloticus) sudah dipelihara di kolam, sawah dan karamba di seluruh propinsi di indonesia (Cholik dkk, 2005). Dari segi teknik pembudidayaan baik pada pembenihan maupun pembesaran Ikan Nila (Oreocromis niloticus) mudah untuk dibudidayakan seperti ikan konsumsi lain (Amri dan Khairuman, 2003)

Begitu populernya ikan ini, saat ini Ikan Nila (Oreocromis niloticus) sangat mudah didapatkan di seluruh pelosok tanah air. Hal ini menunjukkan bahwa Ikan Nila mempunyai prospek usaha yang menjanjikan selain itu juga dijelaskan oleh Amri dan Khairuman (2003) prospek pengembangan budidaya Ikan Nila (Oreocromis niloticus) diperkirakan mempunyai peluang yang sama baiknya dengan pengembangan jenis ikan konsumsi lainnya. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya konsumsi ikan per kapita. Sehingga kebutuhan pasar terhadap Ikan Nila tidak hanya untuk ikan konsumsi namun juga benih.

Ikan Nila Gift (Oreocromis niloticus) merupakan varietas baru hasil persilangan antara beberapa varietas yang berkembang di beberapa negara. Jenis nila GIFT (genetic improvement of farmers tilapia) dikembangkan sejak 1987 oleh ICLARM (International Center for Living Aquatic Resources Management) kerjasama dengan ADB (Asian Development Bank) dan UNDP (United Nation Development Project) (Amri dan Khairuman, 2003).

Ikan Nila Gift (Oreocromis niloticus) diintroduksi ke Indonesia sekitar tahun 1990, pada awalnya ikan ini kurang popular di kalangan masyarakat. Keterbatasan informasi dan publikasi membuat penyebaran ikan ini tersendat-sendat, padahal nila Gift (Oreocromis niloticus) memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan ikan jenis lainnya. Pertumbuhannya relative cepat dan lebih besar dibandingkan dengan nila lokal. Ikan Nila Gift (Oreocromis niloticus) mudah dikembangkan dan dipelihara serta responsif terhadap pemberian pakan tambahan. Ikan ini juga mudah menyesuaikan diri dengan perubahan keadaan lingkungan dan tahan terhadap gangguan hama dan penyakit (Djariah, 2002).

Dalam pengembangan budidaya Ikan Nila Gift (Oreocromis niloticus) di kolam pembeniahan UPR Sumber Mina Lestari keberadaan hama keong mas atau siput murbai (Pomacea canaliculata Lamarck ) yang dapat mengakibatkan mortalitas ikan tinggi sehingga survival rate-nya rendah. Belum diketahui secara pasti hubungan sebab akibat antara keberadaan keong dengan tingkat kematian ikan nila Gift (Oreocromis niloticus). Keong mas termasuk dalam kelas Gastropoda. Gastropoda dalam bahasa Yunani berasal dari kata Gaster yang berarti perutdan Pous yang berarti kaki. Adapun klasifikasinya adalah sebagai berikut :

Divisio : Eucoelomata

Section : Protostomia

Phyllum : Mollusca

Kelas : Gastropoda

Sub Kelas :

Prosobranchia; torsi jelas, bernafas dengan menggunakan insang dan rongga mantel insang dan anus di anterior

Pulmonata; merupakan siput darat dan rongga mantel berfungsi sebagai paru-paru

Opisthobranchia; mengalami detorsi; cangkang kecil atau tidak ada, beberapa spesies hidup pelagis

Siput mengalami torsi, yaitu mantel, rongga mantel dan visceral mass memutar 180 0 akibatnya insang kanan lenyap dan bilik kakan juga lenyap. Jika mengalami detorsi akan terjadi perputaran kembali, tetapi oragan yang sudah hilang tidak terbentuk kembali (Dani, 2004).

Adapun pemanfaatan keong mas disampaikan sebagai berikut:

Pengembangan pakan ternak

Pada pengembangan ternak itik, keong mas (setelah dicincang) merupakan makanan campuran sebagai sumber protein yang murah. Selain mengandung banyak protein, keong mas juga kaya akan kalsium. Keong mas dapat juga dijadikan tepung, setelah direbus, dikeringkan dan digiling terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan dedak padi dan menir dengan perbandingan masing-masing 3,4 persen, 73,3 persen, dan 23,3 persen (Bagus, 1999).

Penggunaan keong mas sebagai makanan itik sebagai sumber protein hewani telah dilakukan sejak tahun 1985 (Kompiang dkk., 1985). Akhir-akhir ini banyak wilayah padi dan wilayah ternak itik seperti halnya di daerah Banten, Jawa Tengah, Riau, dan beberapa daerah di Sulawesi dan Kalimantan telah memanfaatkan keong mas ini sebagai sumber pakan itik. Di Sumatra Selatan, pemberian ramuan keong mas 10% memberikan pertumbuhan yang baik bagi itik pada periode layer (bertelur). Di Pasaman, penggunaan keong mas untuk pakan itik mampu menaikkan hasil telurnya mencapai 80 persen.

Pemberikan tepung keong mas pada peternakan ayam broiler juga telah dilakukan oleh Widyatmoko (1996). Tepung tubuh dan cangkang keong mas memberikan nilai pertumbuhan yang cukup baik bagi peternakan ayam. Hal yang cukup mengejutkan bahwa penggunaan tepung yang berasal dari cangkang keong mas juga memberikan nilai pertumbuhan yang bagus. Selain dalam bentuk tepung, silase daging keong mas juga telah terbukti menjadi sumber pakan ternak bagi ruminansia dan ayam buras (BP2TP Sumatra Utara, 2006). Pakan yang berbasis protein keong mas pernah diujicobakan pada peternakan burung puyuh (Coturnix coturnix) dan memberikan pertumbuhan yang baik.

Keong mas sebagai sumber pakan ikan dan organisma perairan lainnya saat ini sudah mulai banyak dilakukan oleh berbagai kalangan para pembudi daya. Pada pemeliharaan ikan patin (Pangasius sp.) tepung keong mas sejak tahun 1999 telah diujicobakan. Pada penggantian kandungan tepung ikan menjadi tepung keong mas sebanyak 25-75 persen memberikan pengaruh yang cukup baik terhadap laju pertumbuhan harian individu, efisiensi pakan, retensi protein dan retensi lemak (Sholikhati, 1999). Keong mas yang dipotong-potong kemudian ditaburkan pada kolam ikan patin juga telah dilakukan oleh para petani di Kabupaten Bengkalis.

Pemeliharaan ikan patin (Pangasius sp.) di Bengkalis, dengan pakan keong mas memberikan hasil yang cukup baik bagi pertumbuhan ikan tersebut. Pada budi daya ikan nila (Orochromis niloticus), komposisi 50% tepung ikan dan 50% telung keong mas memberikan pertumbuhan yang cukup baik, dengan nilai konversi pakan yang rendah (Abdullah,2000). Di Medan, pakan ikan mas dibuat ransumnya dari keong mas. Dalam pembuatan pakan ikan mas, dapat diperoleh sekitar 170 kg tepung keong mas/minggu.Pada pemeliharaan ikan gabus (Chana striata) yang diberi pakan keong mas memberikan pertumbuhan yang cukup baik. Selain itu, pakan yang dibuat dari keong mas juga telah dilakukan pada pemeliharaan ikan sidat (Anguilla sp.).

Penggunaan keong mas untuk pakan Krustase telah dibuktikan pada udang dan kepiting. Pada budi daya udang windu, penggunaan pakan keong mas sudah dilakukan dalam uji coba oleh Bombeo-Tuburan dkk. pada tahun 1995. Pada pematangan gonad kepiting bakau (Scylla spp.) di Pantai Mayangan (Subang) dapat diketahui bahwa pemberian pakan berupa keong mas dapat mempersiangkat sampai 1/3 kali masa pemeliharaan dibandingkan dengan pemberian pakan yang berasal dari ikan. Penggunaan keong mas untuk pakan lobster air tawar telah diujicobakan di suatu universitas di Yogyakarta dan juga telah dilakukan oleh beberapa petani yang membudi daya lobster.

Sumber makanan dan obat-obatan

Keong mas mengandung protein yang cukup tinggi. Dari hasil uji proksimat dapat diketahui bahwa kandungan protein bisa mencapai 16-50 persen. Sebagai sumber protein masyarakat, keong mas merupakan makanan yang cukup bergizi. Di Kudus dan beberapa daerah di Indonesia, jenis keong ini merupakan sumber makanan dengan cara direbus atau diberi bumbu rica-rica. Seperti halnya jenis keong sawah (Bellamnya javanica), jenis keong mas memiliki rasa yang cukup lezat dengan olahan dalam berbagai hidangan antara lain: sate keong, pepes keong, sambel keong, dan aneka menu keong mas lainnya.

Selain sebagai makanan, keong mas juga berfungsi sebagai bahan obat. Keong mas di beberapa daerah juga sudah diolah manjadi dendeng, dengan pemberian berberapa bumbu atau rempah-rempah yang cukup digemari. Nursanti (2006) telah melakukan penelitian untuk pendayagunaan keong mas sebagai bahan alternatif pembuatan kecap yang memiliki nilai protein cukup tinggi. Berbagai bentuk olahan keong mas tersebut selain sumber protein yang cukup murah dan terjangkau, juga telah lama dipercaya oleh masyarakat bahwa keong mas dapat digunakan untuk mengobati penyakit kuning ataupun liver (Sihombing, 1999).

Pengontrol inang perantara

Jenis keong mas merupakan hewan yang dapat dipergunakan untuk mengontrol jenis keong Bulinus sp. dan Biophalaria sp. yang merupakan inang perantara parasit trematoda. Parasit ini dapat menyebabkan para perenang terkena penyakit gatal dan schistosomiasis, penyakit yang telah mengenai pada lebih dari 200 juta penduduk tropis. Kehadiran keong mas, pada sisi ini dapat menghindarkan masyarakat kita akan terkenannya penyakit tersebut.

Keong mas atau siput murbai (Pomacea canaliculata Lamarck), diintroduksi ke Filipina antara tahun 1982 sampai tahun 1984. Siput murbai didatangkan dari Amerika Selatan ( Brasilia dan Argentina) melalui Taiwan. Nilai gizi yang tinggi sebagai bahan pangan dan pakan ternak menimbulkan minat baik pemerintah maupun swasta untuk mengembangkan siput murbai ini.


Di bawah ini nilai gizi yang terkandung dari 100 gram daging siput murbai antara lain:
– Energi makanan 83 kalori
– Protein 12.2 g
– Lemak 0.4 g
– Karbohidrat 6.6 g
– Abu 3.2 g
– Fosfor 61 mg
– Natrium 40 mg
– Kalium 17 mg
– Riboflavin 12 mg
– Niacin 1.8 mg
– Kandungan makanan yang lain: Vit. C, Zn, Cu, Mn dan Jodium

Sumber : Philippine Rice Research Institute

Sifat siput murbai dewasa antara lain: Siput murbai dapat hidup antara 2 sampai 6 tahun dengan keperidian (fertilitas) yang tinggi, Rumah siput (cangkang) berwarna coklat muda, dagingnya berwarna putih susu sampai merah keemasan atau oranye, Ukuran siput murbai sangat tergantung pada ketersediaan makanan, Stadia yang paling merusak ketika rumah siput berukuran 10 mm (kira kira sebesar biji jagung) sampai 40 mm ( kira kira sebesar bola pingpong).

Siklus hidup

Telur

  • Telur diletakkan pada malam hari pada tumbuhan, galengan dan barang lain (seperti ranting, ajir, batu dll) diatas permukaan air.
  • Kelompok telur berwarna jambon kemerah- merahan cerah dan menjadi jambon muda ketika akan menetas.
  • Telur mentetas dalam 7 sampai 14 hari.

Siput murbai muda yang baru menetas dan siput murbai dewasa

  • Siput murbai cepat besar dan dewasa.
  • Mereka rakus makan.
  • Siput murbai kawin selama 3 sampai 4 jam pada siang hari pada tumbuhan yang rimbun (rapat) yang mendapat air sepanjang tahun.
  • Siput murbai bereproduksi dengan cepat. Mereka dapat bertelur 1000-1200 butir dalam sebulan. Dengan demikian, menghancurkan telur merupakan strategi pemberantasan yang efektif.

Tempat siput murbai hidup

  • Di kolam, rawa, sawah irigasi, saluran air dan areal yang selalu tergenang.
  • Mereka mengubur diri dalam tanah yang lembab selama musim kemarau. Mereka bisa berdiapause selama 6 bulan, kemudian aktif kembali jika tanah diairi.
  • Mereka bisa bertahan hidup pada lingkungan yang ganas seperti air yang terpolusi atau kurang kandungan oksigen

Pengamatan pada Praktek Kerja Lapang ini dilakukan pada salah satu anggota di UPR Sumber Mina Lestari yaitu kolam milik Pak Sugeng yang terdiri 13 kolam diantaranya 3 kolam induk dan 10 kolam pendederan. Kolam milik Pak Sugeng dipilih karena letaknya berada pada 1 lahan (Kapling A) sehingga mempunyai kondisi yang memungkinkan untuk dilakukan pengamatan secara intensif khususnya saat melakukan praktek kerja lapang dibandingkan kolam milik anggota UPR Sumber Mina Lestari lainnya yang letak lahannya berjauhan sehingga sulit dijangkau. Selain itu, pembimbing lapang mudah untuk melakukan koordinasi dan pengawasan saat dilakukannya praktek kerja lapang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: