Oleh: irfanto | 15 Februari 2009

DNA FINGERPRINTING DAN ANALISIS FORENSIK

DNA FINGERPRINTING DAN ANALISIS FORENSIK

Oleh:irfanto

Di Indonesia, DNA fingerprint mencuat namanya sebagai cara identifikasi kejahatan dan korban yang telah hancur setelah terjadi peristiwa peledakan bom di tanah air seperti kasus bom Bali, bom Marriot, peledakan bom di depan Kedubes Australia dan lain-lain. Pengunaan informasi DNA fingerprint di Indonesia boleh dibilang masih sangat baru sedangkan di negara-negara maju, hal ini telah biasa dilakukan (Putra, 2007).

Steven Friedland dalam artikelnya “The Criminal Law Implications of The Human Genom” di Kentucky Law Journal tahun 1997 menyebutkan bahwa dengan menangani dan menggunakan barang bukti DNA secara tepat, kasus-kasus yang sulit terungkap bukan tidak mungkin akan terpecahkan. Dengan teknologi DNA ini pula hukum dan keadilan akan lebih dipercaya (Kompas Cybermedia dan Berbagai Sumber, 2007).

Dengan teknologi DNA ini pula hukum dan keadilan akan lebih dipercaya. Menurut Dr Bruce Weir, profesor ilmu statistik-genetik dari North Carolina State University, DNA fingerprinting atau tes DNA adalah karakterisasi DNA untuk mengidentifikasi susunan DNA seseorang. Barang bukti DNA dapat diambil dari barang bukti biologis, baik dalam keadaan utuh maupun tidak utuh. Berbeda dengan analisis sidik jari, yang mudah rusak atau hilang dan akurasinya sangat tergantung dengan keutuhan Menurut Beverly Himick, seorang peneliti forensik dari Washington State Patrol Crime Lab, tes DNA dapat dilakukan hanya dengan barang bukti DNA yang jumlahnya sedikit (Kompas Cybermedia dan Berbagai Sumber, 2007).

Asam deoksiribonukleat (DNA) adalah salah satu jenis asam nukleat. Asam nukleat merupakan senyawa-senyawa polimer yang menyimpan semua informasi tentang genetika. Penemuan tehnik Polymerase Chain Reaction (PCR) menyebabkan perubahan yang cukup revolusioner di berbagai bidang. Hasil aplikasi dari tehnik PCR ini disebut dengan DNA fingerprint yang merupakan gambaran pola potongan DNA dari setiap individu. Karena setiap individu mempunyai DNA fingerprint yang berbeda maka dalam kasus forensik, informasi ini bisa digunakan sebagai bukti kuat kejahatan di pengadilan (Putra, 2007).

DNA yang biasa digunakan dalam tes adalah DNA mitokondria dan DNA inti sel. DNA yang paling akurat untuk tes adalah DNA inti sel karena inti sel tidak bisa berubah sedangkan DNA dalam mitokondria dapat berubah karena berasal dari garis keturunan ibu, yang dapat berubah seiring dengan perkawinan keturunannya. Dalam kasus-kasus kriminal, penggunaan kedua tes DNA diatas, bergantung pada barang bukti apa yang ditemukan di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Seperti jika ditemukan puntung rokok, maka yang diperiksa adalah DNA inti sel yang terdapat dalam epitel bibir karena ketika rokok dihisap dalam mulut, epitel dalam bibir ada yang tertinggal di puntung rokok. Epitel ini masih menggandung unsur DNA yang dapat dilacak (Putra, 2007).

Untuk kasus pemerkosaan diperiksa spermanya tetapi yang lebih utama adalah kepala spermatozoanya yang terdapat DNA inti sel didalamnya. Sedangkan jika di TKP ditemukan satu helai rambut maka sampel ini dapat diperiksa asal ada akarnya. Namun untuk DNA mitokondria tidak harus ada akar, cukup potongan rambut karena diketahui bahwa pada ujung rambut terdapat DNA mitokondria sedangkan akar rambut terdapat DNA inti sel. Bagian-bagian tubuh lainnya yang dapat diperiksa selain epitel bibir, sperma dan rambut adalah darah, daging, tulang dan kuku (Putra, 2007).

Sistematika analisis DNA fingerprint sama dengan metode analisis ilmiah yang biasa dilakukan di laboratorium kimia. Sistematika ini dimulai dari proses pengambilan sampel sampai ke analisis dengan PCR. Pada pengambilan sampel dibutuhkan kehati-hatian dan kesterilan peralatan yang digunakan. Setelah didapat sampel dari bagian tubuh tertentu, maka dilakukan isolasi untuk mendapatkan sampel DNA. Bahan kimia yang digunakan untuk isolasi adalah Phenolchloroform dan Chilex. Phenolchloroform biasa digunakan untuk isolasi darah yang berbentuk cairan sedangkan Chilex digunakan untuk mengisolasi barang bukti berupa rambut. Lama waktu proses tergantung dari kemudahan suatu sampel di isolasi, bisa saja hanya beberapa hari atau bahkan bisa berbulan-bulan (Putra, 2007).

Tahapan selanjutnya adalah sampel DNA dimasukkan kedalam mesin PCR. Langkah dasar penyusunan DNA fingerprint dengan PCR yaitu dengan amplifikasi (pembesaran) sebuah set potongan DNA yang urutannya belum diketahui. Prosedur ini dimulai dengan mencampur sebuah primer amplifikasi dengan sampel genomik DNA. Satu nanogram DNA sudah cukup untuk membuat plate reaksi. Jumlah sebesar itu dapat diperoleh dari isolasi satu tetes darah kering, dari sel-sel yang melekat pada pangkal rambut atau dari sampel jaringan apa saja yang ditemukan di TKP. Kemudian primer amplifikasi tersebut digunakan untuk penjiplakan pada sampel DNA yang mempunyai urutan basa yang cocok. Hasil akhirnya berupa kopi urutan DNA lengkap hasil amplifikasi dari DNA Sampel (Putra, 2007).

Selanjutnya kopi urutan DNA akan dikarakterisasi dengan elektroforesis untuk melihat pola pitanya. Karena urutan DNA setiap orang berbeda maka jumlah dan lokasi pita DNA (pola elektroforesis) setiap individu juga berbeda. Pola pita inilah yang dimaksud DNA fingerprint. Adanya kesalahan bahwa kemiripan pola pita bisa terjadi secara random (kebetulan) sangat kecil kemungkinannya, mungkin satu diantara satu juta. Finishing dari metode ini adalah mencocokkan tipe-tipe DNA fingerprint dengan pemilik sampel jaringan (tersangka pelaku kejahatan) (Putra, 2007).

8.1 Pendahuluan DNA Fingerprinting dan Forensik

Ilmu forensik merupakan gabungan dari hukum dan ilmu pengetahuan. Banyak kasus peradilan yang bergantung pada bukti ilmiah. Sains tidak hanya digunakan untuk menghukum yang bersalah atau membebaskan orang yang tidak bersalah, tetapi juga digunakan untuk mengungkap kasus kejahatan. Sepanjang tahun, sains telah mengembangkan teknologi baru dan hukum dengan cepat menggunakan informasi baru ini untuk membantu mengungkap kebenaran.

Pada akhir tahun 1800-an, dalam usaha memberantas kejahatan telah digunakan teknologi yang telah sdiperbaharui, yaitu fotografi yang memungkinkan untuk menggambar kasus kejahatan dalam bentuk dokumentasi sehingga gambar-gambar tersebut dapat digunakan sebagai referensi yang tetap akurat. Namun hal ini memiliki banyak kelemahan yaitu para penjahat telah menemukan banyak cara untuk mengubah penampilan sehingga tidak memungkinkan identifikasi pelaku berdasarkan foto yang ada.

Kurang lebih 100 tahun yang lalu, ilmuwan menemukan bahwa tapak dan lingkaran di kulit pada sidik jari dapat digunakan untuk menentukan identitas seseorang. Setelah hasil tes darah yang ditemukan pada sebuah peti uang membantu terungkapnya pembunuhan di Inggris, secara rutin dilakukan proses stempel jari-jari tersangka dan pengumpulan sidik jari. FBI, CIA dan badan hukum lainnya mengumpulkan hasil pencatatan tersebut.

Pada tahun 1985, telah terjadi revolusi teknologi sebagai suatu alat yang sangat berperan dalam ferensik. Berdasar pada goresan sidik jari yang tertinggal di lokasi kejahatan berlangsung, para penyelidik dapat melihat jenis baru ”sidik jari, tanda unik yang ditemukan pada masing-masing susunan genetik manusia.

8.2 Apakah DNA Fingerprinting itu?

Setiap manusia membawa set gen khusus. Struktur kimia DNA selalu sama, tetapi dengan urutan pasngan basa yanng berbeda. Setiap sel mengandung sebuah salinan DNA yang mendefinisikan organisme sebagai keseluruhan sel-sel individu yang memiliki fungsi berbeda-beda (sel otot jantung menjaga denyut jantung, neuron mengirimkan sinyal ke pikiran kita, sel limfosit T mencegah infeksi). Tiap-tiap sel dalam tubuh memberikan DNA yang sama, sel yang didapatkan dengan menyapubagian dalam pipi seseorang akan menjadi pasangan yang sempurna dengan sel yang ditemukan pada sel darah putih, sel kulit atau jaringan lainya.

Untungnya, hal ini tidak perlu untuk mengelompokkan setiap basa berpasangan dalam individu untuk memperoleh tanda penenal. Meski demikian, pemprofilan DNA berdasarkan pada sejumlah kecil genom. Setiap untaian dari DNA mengandung informasi genetik aktif yang mengkode protein (sebagian yang diketahui adalah akson) dan disebut juga DNA sampah, dimana belm diketahui fungsinya bagi perkembangan organisme.bagian DNA tersebut mengandung urutan berulang antara 20-100 pasang basa. Rangkaian ini disebut Variable Number Tandem Repeats (VNTRs), merupakan bagian yang selalu sama dalam penentuan identitas genetik. Setiap orang memiliki VNTRs yang diturunkan dari ayah dan ibunya. Tidak ada seorangpun yang memiliki VNTRs yang sama dengan orang tua (ini hanya terjadi dengan hasil kloning). VNTRs merupakan variasi pengulangan dari daerah DNA yang berurutan. Sekumpulan VNTRs individu memberikan petunjuk penyelidikan untuk mengenali identitas seseorang yang dikenal dengan sidik jari DNA. Sidik jari DNA biasa digunakan untuk mendeteksi keberadaan mikrosatelit, yang mana satu, dua, tiga atau empat nukleotida ulangan diedarkan melalui kromosom (berlawanan dengan minisatelit dan mikrosatelit yang berada dalam sentromer dan telomer kromosom). Karena daerah pengulangan tersebut dapat terbentuk di banyak lokasi, digunakanlah probe untuk mengidentifikasi daerah komplemen DNA yang mengelilingi mikrosatelit tertentu yang telah dianalisis.

8.3 Persiapan DNA Fingerprint

Pengumpulan spesimen

Investigator peristiwa kriminal secara rutin mencari sumber DNA: binatu kotor, jilatan amplop, puntung rokok, sebuah cangkir kopi, atau lainnya yang merupakan sumber sel manusia. Bercak darah, noda air mani yang telah kering, atau bekas ludah semua diambil untuk memcahkan sebuah kasus.

Setiap makhluk hidup memiliki DNA, jadi setiap lokasi kasus kejahatan pasti penuh dengan sumber-sumber yang telah terkontaminasi. Dengan alasan tersebut, perhatian yang cermat sangat dibutuhkan pada saat mengumpulkan bukti. Untuk melindungi bukti-bukti tersebut, petugas pada lokasi kejahatan harus melakukan tindakan pencegahan sebagai berikut:

· Menggunakan dan menyediakan sarung tangan dan menggantinya secara teratur.

· Menggunakan peralatan yang disediakan (seperti penjepit atau kain lap). Bila alat-alat yang diperlukan tidak tersedia, pastikan bahwa peralatan yang digunakan bersih sepenuhnya baik sebelum maupun sesudah memegang masing-masing sampel.

· Tidak berbicara, bersin, dan batuk untuk mencegah kontaminasi mikroorganisme dari ludah.

· Tidak menyentuk barang apapun yang mengandung DNA (seperti wajah, hidung, mulut sendiri) selama memegang barang bukti.

Sinar matahari dan suhu tinggi dapat merusak DNA. Bakteri sebagai dekomposer dapat mengkontaminasi sebelum atau selama pemeliharaan sampel. Jadi barang bukti tidak boleh disimpan dalam kantong plastik karena dapat merusak kelembaban.

DNA fingerprinting merupakan proses perbandingan, yaitu DNA dari lokasi kejahatan dibandingkan dengan sampel DNA tersangka. Spesimen yang dibandingkan sebanyak 1 ml atau lebih ditambah agen anti pembekuan yang disebut Ethylene Diamine Tetraacetic Acid (EDTA)

Ekstraksi DNA Untuk Analisis

Setelah sampel terkumpul, para teknisi bertanggung jawab untuk menetapkan riwayat genetiknya. Pertama, ekstraksi DNA dari sampel. DNA dapat dipurifikasi secara kimiawi (menggunakan detergen yang dapat melepaskan materi sel yang tidak diinginkan) atau secara mekanis (menggunkan tekanan untuk memaksa DNA keluar sel)

Analisis RFLP

Karena proses ini akan memakan banyak waktu untuk menganalisis tiga milyar pasang basa, digunakan sebuah metode yang bergantung pada VNTRs. Konsentrasi pada urutan yang berulang lebih bijaksana daripada menganalisis masing-masing pasang basa. Untuk isolasi VNTRs, DNA diperlakukan dengan enzim restriksi endonuklease, yang memotong heliks DNA dimanapun urutan spesifik muncul pada rantai. Proses tersebut disebut Restriction Fragment Length Polymorfism (RFLP). Restriksi endonuklease ditemukan pada bakteri E. coli.

Setelah berbentuk fragmen, teknisi menggunakan elekroforesis untuk memisahkan potongan-potongan tersebut. Fragmen DNA berjalan melewati medium gel menuju ke sisi positif elektroda. Pergerakan fragmen diperlambat oleh adanya pori-pori pada gel. Fragmen yang lebih kecil dan ringan berjalan lebih cepat. Jadi fragmen-fragmen tersebut berjalan lebih jauh melewati gel. Hasilnya adalah sebuah gel dengan DNA pendek pada ujung fragmen genetik. Gel kemudian diperlakukan secara kimiawi atau dipanaskan untuk mendenaturasi DNA dan membentuk kembali double-heliks.

8.4 Penggunaan DNA untuk Tes

Pembunuhan di Desa Narborough

Penggunaan teknik sidik jari dalam menyelesaikan kasus kriminal yang menyangkut pembunuhan dan pemerkosaan seorang gadis sekolah dilakukan oleh sir Alex Jefferies dan rekan kerjanya yaitu Dr. Peter Gill dan Dr. Dave warret di Inggris. Mereka melakukan penyelidikan dengan memeriksa bukti berupa noda yang sudah mengering. Yang terpenting yang dilakukan oleh Dr. Gill adalah mengembangkan penyelidikan dengan metode memeriksa sebaran sperma di sekitar sel vagina. Deterjen bisa menghilangkan sel vagina tapi tidak untuk sel sperma. Tanpa pengembangan ini sangat sulit untuk menggunakan DNA sebagai bukti dalam menangani kasus-kasus pemerkosaan.

Jefri dan rekan kerjanya membandingkan bukti DNA yang dikumpulkan dalam kasus yang mereka tangani dengan contoh air mani dari pembunuhan yang mirip yang terjadi sebelumnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa kedua kejahatan itu dilakukan oleh orang yang sama. Dari sini, polisi memiliki satu tersangka utama. Tetapi ketika bukti DNA yang ada dibandingkan dengan darah tersangka ternyata sangat jelas perbedaanya. Kedua DNA tersebut sama sekali tidak cocok.

Penyelidikan kemudian dilanjutkan, polisi mengumpulkan bukti-bukti DNA sebanyak 5500 buah dari berbagai populasi dengan cara tes darah sederhana, dari sini kemudian diambil 10 % untuk penyelidikan lebih lanjut. Setelah perdebatan yang cukup rumit tentang hasil analisis, penyelidikan akhirnya dihentikan karena tidak ada profil yang cocok dengan si pembunuh.

Setelah beberapa lama muncullah titik terang, seorang pria berkata bahwa ia dapat memberikan sampel atas nama temannya, pria itu kemudian diperiksa, ternyata serangkaian tes bisa dimengerti dan DNAnyapun dianalisis. Hasilnya ternyata pola dari DNA pria itu cocok dengan DNA dalam semen tersangka. Pria tersebut akhirmya mengaku telah melakukan dua kejahatan dan akhirnya harus mendekam dalam penjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya itu.

Kasus ini digunakan sebagai salah satu dasar penting tentang keterbatasan penggunaan DNA sebagai barang bukti. Dari kasus tersebut terlihat bahwa apabila tidak ada sampel yang sudah terlebih dahulu diketahui untuk dibuat perbandingan sangat sulit untuk menentukan identitas orang yang dicari. Contohnya, apabila sampel darah dari korban dan tersangka sudah diketahui, penyelidik sangat mungkin untuk menentukan tersangka tunggal lewat darah DNA yang ditemukan di pakaian tersangka.

Pemerkosaan Forest Hill

Pembuktian dengan menggunakan DNA pertama kali digunakan di Amerika Serikat dan bisa memberikan penjelasan ilmiah terhadap ribuan kasus kriminal. Pentingnya penggunaan bukti DNA lebih berguna ketika digunakan untuk menunjukkan kesalahan pernyataan saksi mata. Pernyataan saksi yang mungkin terlihat sebagai bukti standar pada umumnya dapat keliru. Pada tahun 1988 Victor Lopez, dituduh melakukan penyerangan seksual terhadap tiga orang wanita. Ketiga wanita itu melapor kepada polisi bahwa mereka diserang oleh lelaki berkulit hitam. Pada kenyataannya Vicor Lopez tidak berkulit hitam, kejadian ini diangkat sebagai kasus yang tidak jelas. Apakah Victor Lopez adalah seorang pria tidak bersalah yang tertuduh oleh sebuah sistem? Darah Victor dianalisis dan dibandingkan dengan sperma yang tertinggal di tempat kejadian, ternyata DNA itu cocok. Akhirnya Lopez diketahui bersalah atas kasus penyerangan seksual.

8.5 DNA dan Aturan Pembuktian

Sebelum sidik jari dapat digunakan di dunia peradilan, sidik jari harus memenuhi standar yang memperhatikan boleh atau tidaknya dalam pembuktian. Pengadilan menggunakan standar yang ada untuk menentukan apakah cara-cara ilmiah digunakan di dalam suatu kasus. Pengujian digunakan atas jurisdiksi itu. Ketika suatu metode teknik baru digunakan untuk mengumpulkan, memproses, atau menganalisis bukti harus memenuhi salah satu atau beberapa patokan ini.

· Tes relevansi (aturan pembuktian aturan federal 401, 402, dan 403), intinya memperbolehkan segala sesuatu yang relevan.

· Standar Frye (1923), penelitian harus berdasarkan teori dan teknik, penelitian ini harus cukup bisa digunakan dan diuji oleh masyarakat sains dan memiliki penerimaan umum.

· Standar Capolino (1968), memperbolehkan ilmu pengetahuan baru atau kontroversial digunakan jika landasan yang sesuai diberikan.

· Standar Marx (1975) secara dasra merupakan pengujian menurut pandangan umum yang mensyaratkan bahwa pengadilan dapat memahami dan mengevaluasi bukti ilmiah yang diajukan.

· Standar Daubert (1993) mensyaratkan adanya dengar pendapat sebelum uji coba secara khusus untuk pembuktian ilmiah.

Bukti ilmiah ini telah menjadi pembuktian yang lebih canggih yang berkembang dalam dunia hukum. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa metode ilmiah dan keahlian untuk memberikan bukti dapat dipercaya.

Sidik jari DNA dan Pembunuh Simpson/Goldman

Suatu analisis DNA merupakan alat forensik baru ketika keplisian Los Angels di hampir semua percobaan terkenal dalam sejarah masa kini. Pada tahun 1994, Nicole Brown Simpson dan Ronald Goldman dibunuh, dan mantan suami Simpson, O.J Simpson menjadi salah satu tersangka. Empat puluh lima sampel dikumpulkan untuk analisis DNA termasuk sampel darah yang dikenali dari dua korban dan tersanka seperti tetesan darah yang ditemukan di rumah O.J. Simpson. Selama penyelidikan pendahuluan, diumumkan bahwa DNA yang dikumpulkan di tempat kejadian perkara cocok dengan DNA O.J Simpson.

Pembela O.J Simpson segera melayangkan bantahannya. Selama uji coba, pembela menunjukkan suatu video dari metode pengumpulan sampel dan digambarkan dengan kesaksian ahli untuk menyatakan keraguan atas bukti yang diberikan. Pembela menekankan bahwa kontaminasi bisa saja terjadi ketika seorang teknisi menyentuh tanah, sat kantong plasti digunakan untuk menyimpan bekas cairan, dan ketika wadah pengumpulan sampel dibersihkan. Ketika berdiri, seorang saksi penuntut salah menyebut sampel, kemungkinannya bukti itu tercemar secara nyata di mata pengadilandan hakim. Akibatnya bukti DNA yang dimintauntuk penuntutan dianngap tidak efektif. Akhirnya O.J simpson dinyatakan tidak bersalah. Ketika bukti DNA ini terpatahkan, maka sampel Dna seperti kehilangan nilai di mata peradilan.

DNA dan Kehakiman

Untuk dapat menggunakan bukti DNA, hakim yang menilai harus memahaminya. Hal ini dikarenakan bukti DNA merupakan statistik di alam, sehingga hasilnya dapat membingungkan bagi beberapa orang, khususnya ketika sebagian dari mereka dijadikan sebagai anggota dari juri panel untuk mendengarkan bahwa di dalam DNA terdapat 50 milyar kasus dalam satu rangkaian. Hal ini memungkinkan mereka untuk fokus pada satu hal dan menggambarkan keanehan lain yang saling bertentangan. Jika bukti DNA tidak dapat dimengerti dengan tepat maka buti tersebut dapat diabaikan.

8.6 Hubungan Keluarga dan Profil DNA

DNA fingerprinting tidak hanya digunakan untuk penanganan kasusu kejahatan. Karena DNA dipunyai dari anggota keluarga yang sama, suatu hubungan dapat dibedakan dengan membandingkan dua sampel individu. Baru-baru ini terdapat teknologi reproduksi yang baru yaitu fertilisasi in-vitro dan inseminasi buatan.

DNA Mitrokondria

Terdapat beberapa teknik lainnya dalam tes DNA, di antaranya analisis DNA mitokondria. Mitokondria adalah salah satu perangkat sel yang berfungsi dalam respirasi sel, disebut juga “hidung sel”. Uniknya, setiap anak perempuan memiliki DNA mitokondria yang sama dengan DNA mitokondria ibunya. Karena itulah analisis DNA mitokondria umumnya dilakukan untuk mengidentifikasi keturunan dari garis ibu, dan sering pula digunakan dalam penelusuran orang hilang (Kompas Cybermedia dan Berbagai Sumber, 2007).

DNA analisis dapat digunakan DNA yang berada di mitokondria dari sel hewan. Tidak seperti gen inti, yang terkombinasi dari kedua orang tua, mDNA di dapat dari keturunan ibu (didalam sitoplasma telur). mDNA selalu sama dari generasi ke generasi, perubahan hanya terjadi pada beberapa waktu karena adanya mutasi yang acak. Konsekuensinya hubungan bisa ditemukan melalui garis keibuan yang jelas.

8.7 Analisis DNA Selain Manusia

Tidak hanya setiap kasus atau pertanyaan dari pengidentifikasian manusia. Banyak pertanyaan seperti ilmu pengetahuan telah terjawab oleh profil genetik tanaman dan hewan.


DAFTAR PUSTAKA

Brinton, Kate& Kim-An Lieberman. Tanpa Tahun. Basics Of DNA Fingerprinting. (Online). http://protist.biology.washington.edu/fingerprint/howis.html. Diakses tanggal 16 Februari 2007.

Kompas Cybermedia dan Berbagai Sumber. 2007. Mengungkap Fakta dengan DNA. (Online). www.duniaguru.com/index.php?option=com_content&task=view&id=212&Itemid=27. Diakses tanggal 26 Februari 2007.

Putra, Sinly Evan. 2007. DNA fingerprint, Metode Analisis Kejahatan pada Forensik. (Online). http://www.biotek.lipi.go.id/biotek/index.php?option=content&task=view&id=315. Diakses tanggal 26 Februari 2007.

Thieman, William&Michael A. Palladino. 2004. Introduction to Biotechnology. San Francisco: Pearson Education, Inc.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: